Tampilkan postingan dengan label In Musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In Musik. Tampilkan semua postingan

Melbi Balada Joni dan Susi

[Selasa, 17 November 2009]

“Berdua semesta kita, bersama kereta kita. Kereta mengantar kita nuju semesta berdua. Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama-sama selamanya.” Lagu ini sederhana, cuma tentang make a wish and promises, jelas Ugo. Penjelasan singkat yang bisa merancang sebuah piritan informasi yang begitu menggoda guna membuat kalian tetap punya hasrat untuk keseluruhan Balada Joni dan Susi. Distophia bisa diunduh di http://www.myspace.com/melancholibitch


Melbi Balada Joni dan Susi

PERTANYAAN pertama, apa jadinya jika sekelompok pemikiran yang terus menerus punya keresahan berkolaborasi, lalu berkarya bersama atas nama Melancholic Bitch? Mediumnya musik, kebanyakan berbahasa ibu, bunyinya variatif. Bisa dibilang ini musik pop yang cerdas bin trengginas.
Trus, apa yang ngebuat musik itu menarik untuk kalian? Sekadar jadi teman goyang, bersenandung, ato pura-pura keliat hebat sebagai prototip musisi yang sedang memainkan alat musik bohongannya. Atau malah punya fungsi lebih dalam dari itu, sebagai alat untuk bercerita.
Jika kalian belum kenalan ama Melancholic Bitch, maka fungsi musik untuk bercerita (ato membagi cerita) adalah alasan paling sahih untuk digunakan bagi sebuah perkenalan awal. Setelah beberapa tahun absen ngasih kabar, mereka balik dengan satu cerita, Balada Joni dan Susi.
Bagi kalian yang ngerasa asing, jangan takut. Melbi –panggilan erat nan akrab mereka— udah ngebagi dua single promo album ini. Pertama, Mars Penyembah Berhala (akhir 2009). Kedua, Distopia, dirilis awal September 2009.
Dua lagu ini mengawali pertempuran panjang yang akan dialami Balada Joni dan Susi ketika dilepas sebagai suatu kesatuan utuh beberapa bulan mendatang. Sekarang, album ini masih berada di etape terakhir pengerjaan. Distopia sendiri dirasa punya kapabilitas yang cukup mumpuni untuk semakin melanjutkan gambaran awal yang digambar oleh Melbi tentang apa itu Balada Joni dan Susi.
“Dari awal, pas kami bikin lagu ini, pengennya lagu ini bisa jadi jalan masuk buat atmosfir etnografisnya si Balada Joni dan Susi, sebutlah begitu. Suasananya, bau udaranya, bunyi lingkungannya. Kota-kota satelit yang mau kosmopolit tapi ngos-ngosan gitu deh. Secara umum, suasananya kan scherzo banget. Ini seperti Indonesia gitu; panik tapi teratur. Rutin tapi histeris,” tutur Ugoran Prasad, penulis lirik utama Melbi.
Selain Ugo, Melbi juga diperkuat Yosef Herman Susilo (gitar), Yennu Ariendra (gitar, synth), Teguh Hari (bass) dan Septian Dwirima (drum). Khusus untuk proyek Balada ini mereka mengundang Richardus Ardita (bass) dan Wiryo Pierna Haris (gitar).
Keseluruhan lagu ini berhasil menyempurnakan rancangan perkenalan orang banyak dengan Balada Joni dan Susi. Di lagu ini, seperti pengakuan Ugo, mereka terdengar liar dalam perkara bebunyian. Seolah-olah, banyak teriakan yang berlomba keluar dan menonjolkan diri.
“Scherzo di bagian tengah ke akhirnya si Distopia emang buat kami penting banget. Pokoknya semua orang cerewet banget di bagian ini. Didit tuh, dia main bas bagian tengah ke belakang berasa seolah-olah sedang berhadapan yang bakal mencaci maki dia,” tambah Ugo lagi.
Scherzo yang dimaksud adalah patahan-patahan musik dalam cara-cara tertentu (bisa tidak beraturan) yang kemudian membentuk sebuah orkestrasi musik yang lebih besar skalanya.
Satu yang menarik, ada sebuah elemen menarik di sini. Melbi ngajak Silir Pujiwati dari kelompok Sinten Remen yang musiknya berbanding terbalik dengan Melbi. “Silir itu adalah dari pikiran kami yang sudah lama ingin ngajak kolaborasi teman-teman di KUA. Sebenarnya di amnesis (album penuh pertama Melbi) sudah dicoba juga. Tapi belum berhasil. Dari dulu Silir sudah bikin kesengsem suaranya. Jadi begitu ada lagu ini dan ada kebutuhan duet, langsung ditembung,” papar Ugo tentang niat lama Melbi berkolaborasi dengan Silir Pujiwati.
Dari segi lirik, Ugo –yang nulis lirik semua lagu di Balada Joni dan Susi— ambil tema tipikal. Dan tidak perlu banyak kata yang harus dirangkai menjadi satu kesatuan. Tiga kalimat sudah cukup mewakili.

Musik Rasa Manis Asam

[Selasa, 17 November 2009]

Strawberrys Pop
Musik Rasa Manis Asam

KALO ngerasain strawberry, rasanya bisa manis dan ada asamnya. Itu udah hal yang umum. Tapi kalian tau belum kalo ternyata ada juga strawberry yang bisa ngebuat kita hanyut kebawa taste-nya. En juga bisa bikin kita goyang? Wouw!! What kind of strawberry is this ? This is not ordinary strawberry, this is Strawberry’s Pop!!
Emang sih, kalo kita nyebut nama itu kerasa aneh di telinga. Tapi kalo kita dengerin musiknya, kita akan kebawa ampe bikin kita goyang. Bagaimana ya awalnya, koq band ini bisa ngedapetin nama ini?
“Strawberrysnya sendiri kami ambil dari lagunya The Beatles, Strawberry’s Fields Forever yang juga jadi influence kita. Sedangkan kata Pop terinspirasi ama pop.. pop-nya gelembungan udara. Jadi, pengennya musik kami bisa dinikmati ama banyak orang, meski rasanya manis dan asem, hehehe…” jelas Adit sang vokalis.
Adit juga nambahin, bahwa kata pop dari Strawberry’s Pop itu bukan merujuk ama jenis musik.
Se-yummy rasa buah strawberry yang manis dan asam, band ini juga sering ngerasain gimana rasanya asam manisnya ngeband. Grup yang udah dirintis sejak 2000 lalu oleh Adithia Bayu ato Adit (vokal), Eros (gitar), Yudi (bass) dan Pamor (drum) ini sempat mengalami beberapa pergantian player serta sempat vakum, hingga akhirnya awal tahun 2009 lalu, mereka bangkit dan nyoba lagi nebar benih-benih Strawberry mereka.
Dengan personil baru Anandityo Susetyadi (bass), Opik Tri Handono (Gitar), Rahmat Riyanto (drum) dan Adithia Bayu (vokal) mereka siap menggerbrak kembali dengan rasa baru.
“Awal terbentuk dulu, Strawberry’s Pop rasanya Brith Pop banget, coz pas itu lagi kesengsem ama band brit pop yang lagi popular, Blur. Tapi setelah vakum sejak 2005 lalu dan terjadi perubahan ama yang maenin musiknya, jadi ya perbedaan yang terlihat kentara pada warna sound. Sekarang kita kasih warna Indie Pop juga,” jelas Adit sambil mainin Fesbuknya pas bertemu ama kru Indikasi.
Sejak awal terbentuk hingga sekarang, Strawberrys Pop udah punya mini album ama album kompilasi lho. Yang resmi di-release sih ada ada dua keping, terus ada 4 keping album B-Side Release yang dibagiin gratisan ke temen-temen Strawberry’s Pop. Widih, enak bener ya, gretongan gan!
Next album? Tunggu aja guys, coz para personel Strawberry’s Pop ini udah nyiapin amunisi-amunisinya yang bakal siap di proses di studio rekaman pada akhir bulan ini.
“Kelar manggung di sebuah acara musik tiga hari yang di Kridosono (13-15/11), Insya Allah kami akan masuk studio rekaman guna mengerjakan mini album baru Strawberrys Pop, tentunya dengan taste dan musik yang berbeda,” ujar Adit dengan semangat.
Secara lirikal lagu-lagu Strawberry’s Pop di EP yang baru ini, tampaknya nggak bakal jauh beda ama mini album pendahulunya, One Day Summer yang nyeritain kritik sosial ala Strawberrys Pop yang nggak terlalu frontal dan terkesan halus.
Di album ini mereka juga bakal nyeritain tentang sosial-humanis yang dibalut ama musik Brith-Pop/Indie Pop yang udah di explore bakal jadiin salah satu bukti, kalo Strawberry’s Pop tuh masih “manis” walaupun udah hibernasi lebih dari 4 tahun. We wait for that moment, fellas! (why/fer)

Usung Genre Rock Bocor

[Selasa, 10 November 2009]
Super Mario Bross
Usung Genre Rock Bocor

TUKANG ledeng, berkumis, dresscodenya colourfull, perutnya gendut tapi dia seorang superhero, hayoo tebak siapa? kalo kita inget-inget tokoh superhero dengan ciri-ciri di atas, mungkin kita bisa merujuk pada satu nama, Mario Bross !!!. Yups! tokoh game superhero kocak yang jadi icon game era 80-an ini nginspirasi salah satu band Jogja dengan nama sama, Super Mario Bross.
Band ini digawangi oleh Tuan Arief (vokal),Bung Roy (vokal),Bung Heru (bass),Bung Richard (gitar),Bung Donal (drum) dan bung Meidy(gitar) dirintis sejak 10 November 2003. “Kami gunakan nama Super Mario Bross, soalnya Mario itu lucu, nggemesin, gokil dan juga jadi icon besar di masanya. Jadi, kita pengen niru kayak gitulah. Jadi band yang nggemesin juga nantinya jadi icon. hehe” tandas Tuan Arief sang vokalis.
Karena superhero tambun Mario Bross tenar pada era 80-an, maka lagu-lagu andalan mereka kental dengan nuansa jadul era-80 dengan sentuhan shintytizer yang bisa ngebikin goyang disko! Tema tentang cinta menjadi pilihan Super Mario Bross, namun cintanya bukan sekedar cinta biasa. Mereka nyebutnya dengan “cinta gagah-gagahan !” waduh, apaan nih?
“Lagu-lagu Super Mario Bross ini nyeritain cinta yang nggak lemah. misalnya kalo kalian putus ama pacar, ada maslaah pacar, jangan mudah putus asa gitu de. Harus kuat dan gagah!” jelas Tuan Arief yang juga owner barbershop di daerah Condong Catur.
Kalo penasaran simak aja lagu-lagu yang ada di album pertama mereka yang dirilis pada 2007 lalu. lagu cinta elektrik ,yang menjadi lagu jagoan Super Mario Bross nyeritain tentang cara komunikasi cinta dari tahun ke tahun. Misalnya, kalo jaman ortu kita dulu kalo mau kenalan harus lewat surat atau merpati pos, kalo sekrang udah pake Handphone ama jejaring sosial macam Facebook,dll.
Setelah rilisan album perdananya pada 2007 lalu, dalam waktu dekat ini Super Mario Bross berniat ngebuat Extended Play atau mini album yang rencananya bakal dirilis pada akhr tahun ini, dengan warna baru. Warna baru ? “dengan bertambahnya umur Super Mario Bross dari tahun ke tahun sejak 2003 lalu, juga mepengaruhi pada warna musik kami. Kalo dulu murni 80-an banget, pas ngerilis EP besok kita bakal bertransformasi jadi rock!!!” tandas tuan Arief dengan semangat.
Mereka menyebut warna musik baru tersebut sebagai genre rock bocor. Yaitu genre rock yang di mix ama pop, mellow dan dance. Wahh.. boleh juga tuh, kalo kalian penasaran kalian, tinggal tunggu akhir tahun ini buat ngedapetin mini album yang berisi 5 lagu itu! Yang tentu aja ngga gratis guys!! (why/fer)

Semangat Hidup dalam Bahasa Kematian

[Selasa, 3 November 2009]
JENNY
Semangat Hidup dalam Bahasa Kematian

JENNY adalah gambaran seorang cewek cantik nan seksi yang selalu ngebikin kita nelen ludah sendiri. Oh ternyata Jenny bukan itu. Karena Jenny adalah sosok perempuan cilik yang lagi asyik maenin bonekanya yang juga punya impian. Ya, Jenny itu sama kayak bocah-bocah cilik lainnya.
Namun kita jangan ketipu ama tampang polos perempuan cilik ini, sebab Jenny dikelilingi empat pria macho yang mengklaim dirinya adalah orang tua asuh.
Empat laki-laki yang ngaku sebagai orang tua asuh Jenny itu adalah Farid Stevy Asta (vokal), Roby Setiawan (gitar), Arjuna Bangsawan (Bass), dan Anis Setiaji (drums) serta seorang lagi yang ngaku paman (baca additional player) Jenny, yakni Moved (additional gitar).
Nah cewek seksi ini juga punya lagu-lagu ciamik dari album terbarunya, manifesto yang dirilis Maret 2009 lalu.. lagu-lagu yang ada di album ini nyeritain tentang gimana keseharian Jenny. Misalnya aja kayak lagu Menangisi akhir pekan. Lagu ini nyoba nyeritain tujuh hari dalam seminggu! lho kok bisa? “Maksudnya gini, Senin ampe Jum’at personel Jenny kerja, dalam artian bukan buat ngeband. Nah, sabtu-minggu kan biasanya dijadiin buat hari-hari libur, buat Jenny, akhir pekan malah kita manggung dari stage ke stage. Jadi kita nggak bisa nikmatin hari libur deh.. hehe,” tukas Jenny -- mereka nggak mau make nama personal, lebih pilih pake nama si anak kecil.
Wah kalo sibuk kayak gitu, fulusnya juga banyak nih! Hehe…
Usut punya usut, kebanyakan personil Jenny berasal dari Institut Seni Indonesia. Jadi kebanyakan mereka bekerja sebagai kuli seni loh. “Meski ngeband juga jadi bagian dari kesibukan kita, namun kita nggak akan ninggalin roots dan blood kita sebagai seorang seniman,” tegas Jenny.
Ada juga track fenomenal yang judulnya Matimuda. Lagu ini punya makna spesial buat Jenny, coz lagu ini yang ngebuat Jenny dikenal ama banyak orang. ”Lagu ini emang punya makna besar buat Jenny. Bahkan banyak lebih tau matimudanya dari pada Jenny! Sebenarnya makna lagu ini sendiri nyeritain tentang semangat hidup namun diceritakan dengan bahasa kematian,” jelas Jenny.
Nggak hanya itu guys, lagu ini jadi salah satu pengisi soundtrack film Radit dan Jani (2008). Lho kok bisa? “Wah kalo gara-gara accident! Lagu mati muda ini udah direkam dulu dan dibuat format secara mp3. Nah lalu salah satu teman masukin lagu ini ke playlist music playernya. Trus dibawa ke Jakarta. Pas udah di sana nggak sengaja Tony the Brandals ngedengerin dan direkomendasiin ke produser eksekutifnya Radit & Jani. Hehehe,” sahut Jenny semangat.
Lagu-lagu lain yang ada di album ini juga nggak kalah menarik lho guys. Wajar aja nih album jadi spesial buat Jeanny. Karena selain proses pengerjaannya cukup lama, nih album juga merupakan tanggung jawab Jenny yang udah ngeband selama 6 tahun ke teman-teman setia mereka yang udah rela nglakuin apa aja buat Jenny! (why/fer)

Kisah Kehidupan Seorang Lelaki

[Selasa, 27 Oktober 2009]
Tabung Band
Kisah Kehidupan Seorang Lelaki

Total dalam bermusik en punya magnet massa luar biasa di beberapa daerah di Jawa Tengah!
Kalimat itu agaknya cukup pas disematin buat band yang punya nama Tabung. Yo’i! Band yang beranggotakan Paksi (vokal), Achied (bass), Galih (guitar) dan Adjie (drum) ini udah ngebuktiin sukses ngejuarai sebuah festival band nasional, yang diadain ama salah satu merk jeans kenamaan (2008). Dengan banyak band saingan yang juga nggak kalah oke ama Tabung, namun mereka mampu membuktikan dengan menjadi juara pertama! Ajib!!
Untuk nyabet gelar terwahid di ajang itu, tentu butuh perjuangan keras yang menguras waktu dan tenaga.
“Buat kami musik itu ibarat makanan sehari-hari, kayak seseorang yang perlu makan tiap harinya. Dengan banyak mengulik berbagai jenis musik, maka semakin banyak hal-hal yang bisa kita eksplore,“ ujar Paksi saat ditemui kru Indikasi di Flow Studio yang menjadi basecamp Tabung.
Berkat kemenangan mereka dalam ajang itu, Tabung akhirnya dapet kesempatan mentas keliling di berbagai kota di Indonesia. Di sini mereka jadi guest star loh guys! Itung-itung holiday ama promosi gratisan nih hehe…
Dalam tiap kunjungannya, single Tanpamu jadi lagu andalan mereka. Dari Klaten, Jepara, Semarang, Kediri, Malang dan terakhir di Bali, para penontonnya dibikin terbius ama lagu itu, en so pastinya sih ya perform Tabung juga.
Ketika ada puncak tour, yakni pas di Pantai Kuta, Bali, Tabung punya cerita menarik. Karena saking kebawa crowd-nya penonton, si Paksi ampe nggak sadar buat naek tiang yang jadi pilar panggung. Pengennya sih dibilang kayak Jared Leto-nya (vokalis) 30 Second to Mars gitu.
“Eh, ternyata malah diceletuk ama panitianya katanya sih malah kayak Dewi Persik kalo lagi perform, hahaha…” ujar Paksi yang juga penggemar berat Muse.
Oh ya guys, karena kesibukan manggung sana-sini, album mereka sampe saat ini jadi selalu tertunda. Namun mereka bertekad dengan menjanjikan kalo album mereka yang dikemas dalam bentuk EP (mini album) berisi 6 track akan rampung pada akhir tahun 2009 ini.
Menurut para personel Tabung, mini album ini nantinya akan memiliki beberapa hal yang menarik lho. Baik dari pengerjaan materi maupun proses pendistribusiannya. Dalam materi lagu mereka banyak ngenonjolin nada-nada minor dan ketukan yang ganjil. Selain itu mereka akan ngenunjukkin karakter sound mereka yang katanya sih udah nggak British.
“Karena influence kami Muse yang notabene asal British, maka kami nggak pengen terlalu British, lebih baik kami pake cara kami sendiri haha…” ucap Achied sang pembetot yang juga diangguki sebagai tanda setuju oleh Paksi.
Sementara itu dalam urusan pendistribusian akan dilakukan dengan dua cara yang berbeda.
”Proses distribusi, kita ntar mau pasarin secara fisik dan via online. Sekarang khan era teknologi informasi, so nggak ada salahnya juga khan kita ngikutin, biar nggak dibilang gaptek sih Hehe…,” jelas cewek pembetot bass ini sambil ngasih contoh beberapa band yang udah mengaplikasikan hal tersebut.
Sedangkan secara lirikal, lagu-lagu di album mereka ini nyeritain tentang hitam putih kehidupan percintaan dari sudut pandang seorang cowok ala Tabung.
“Ceritanya berawal dari proses pacaran ampe married, tapi dalam perjalanannya itu si cowok ngerasa ada masalah ama hubungannya ini, sehingga dia berpikir buat ngambil tindakan terhadap hubungannya ini,” jelas Paksi dengan penuh semangat.
Pengan tau kelanjutan ceritanya nggah nih? Namun nampaknya kalian harus sabar dulu ya buat nunggu EP yang bakal dirilis ama Tabung pada akhir tahun ini untuk menghapus rasa penasaran kalian ama kelanjutan cerita ini. So, be patient guys! (fer/why)

Sinjitos Records Invade Jogja

[Selasa, 27 Oktober 2009]
Monkey to Millionaire
Sinjitos Records Invade Jogja

SEJALAN ama semangat yang diusung untuk ngemajuin kualitas potensi band-band non-mainstream, Sinjitos Records yang berdiri tahun 2006 menggandeng outlet clothing Nimco Store dan podcast music DeadMediaFM.org, serta ngelibatin Double Circle untuk ngejalanin ajang musik bertajuk “Indieland” hari Minggu (26/10) kemarin.
Selain diramein ama band-band asal ibukota yang ada di bawah naungan Sinjitos Record, kayak The Porno, Gugun Blues Shelter dan Monkey to Millionaire. Even ini juga dibuka ama beberapa band lokal kayak Novelo Sefa dan Heinrich Maneuver.
“Harusnya sih ada satu band lokal lagi yang tampil yakni Nervous, namun karena terjadi sebuah musibah yang menimpa Bassisnya yakni Eka, maka band ini batal tampil,” ujar Argha Mahendra store manager dari Nimco Store yang juga drummer Nervous.
Even ini sendiri oleh Sinjitos Records digunain untuk promo kepada teman-teman band yang ada di Jogjakarta, kalo mereka tuh nggak ngasih batasan-batasan untuk bisa join ama mereka.
“Kami nggak pernah ngotak-ngotakin band dengan aliran apa yang akan kami promosikan. Yang jelas kami pengen band-band dengan materi bagus itu karyanya bisa didenger sama masyarakat. Itu aja,” tegas Benedict Pardede dari Sinjitos Records saat ditanya band yang kayak gimana yang bisa masuk ke produksinya.
Anyways, even ini merupakan momen pertama Monkey To Millionaire manggung di Jogja. Alasannya jelas, kota Jogja adalah kota yang paling direkomendasikan buat manggung.
Dan bagi kalian yang kemaren nggak sempet nikmatin performance Monkey To Millionaire di Liquid ato bagi yang pengen mantengin lagi, kabar baeknya mereka bakalan perform lagi di Boshe VVIP Club malem ini, jadi datang ya.
Pssh.. ada bocoran kalo Sinjitos juga akan mengadakan tour pertengahan tahun depan ke kota-kota yang masih dirahasiakan. Just wait and see guys! (arm/why)

La Peste Armada Racun

[Selasa, 20 Oktober 2009]
Armada Racun
Sebarin Virus Pes Lewat La Peste

MUNGKIN semua sepakat kalo tikus itu disebut binatang menjijikkan, sekaligus penyebab utama virus Pes. Seolah terinspirasi dari kotornya binatang itu, trio asal Jogja di bawah bendera Armada Racun pun berencana untuk nyebarin wabah La Peste itu akhir tahun ini. Siap-siap aja Jogja untuk menerima virus!!!!!
Eits.. tunggu dulu guys. Virus ini bukan hal negatif, tapi merupakan nama album, yaitu La Peste. Yah album ini adalah debut full album dari trio Armada Racun, Ferddy Hadiyanto (bass/vocal), Fuad Danar Sucipto (bass) dan nadya octaria hatta (keyboard). Album yang bakal dirilis akhir tahun ini punya makna besar buat ketiga personelnya. Karena album tersebut merupakan kumpulan materi mereka dari tahun 2007 awal hingga pertengahan 2008 yang pada akhirnya bisa ditelorkan jadi album.
Menurut mereka lagu-lagu di album baru ini banyak bercerita tentang realitas sosial di tengah kehidupan masyarakat sehari-sehari.
Coba aja simak lagu Boys Kissing Boys. Di lagu ini mereka mencoba menyentil sebuah realitas sosial yang cukup sensitif di tengah masyarakat kita yang masih kolot, yakni permasalahan penyuka sejenis (homoseks), baik itu laki-laki ama laki-laki maupun perempuan ama perempuan.
“Bukannya kami mendukung untuk melegalkan gay maupun lesbian, tapi kami cuma ingin menunjukkan bahwa ditolak atau nggak, mereka itu benar-benar ada di kehidupan nyata. Dan mereka juga pengen eksis di tengah masyarakat,“ tandas Nadya sang keybordis.
Emang nih, kalo kita nyimak lagu-lagu mereka emang sangat bertema sosial lho. Nggak hanya di Boys Kissing Boys, di track Mati Gaya mereka coba nyeritain kalo pas kita berada di suatu acara, tapi nggak tune-in ama tuh acara, pasti kita bakal ngerasain rasa mati gaya. Track ini nantinya juga bakalan dipilih untuk dibikinin video klip.
Armada Racun emang sangat gemar menyentil permasalahan sosial dengan karakter dan rasa mereka sendiri. Hal ini juga tercermin pada art cover album mereka. Disini digambarin banyak tikus berupa rumah kecil yang mencoba menyerang satu rumah tikus besar yang diatasnya terdapat seekor kucing. Ditanya mengenai maksud gambar tersebut mereka hanya menjawab, biar masyarakat yang mempersepsi dan menafsirkan sendiri apa maksud dari makna art cover album tersebut.
Meskipun nih band nggak ada pemain gitarnya, bukan berarti nih band mati gaya lho! Mereka mampu membuktikan bahwa mereka juga bisa mengimprovisasikan musik mereka dengan cukup menarik. Dengan inspirasi dari band kayak Death From Above, Tesraiders sampe Bethoven mereka mampu membuat musik yang meskipun cutting edge namun tidak berat untuk didengarin.
Bahkan, intro track I Am Small, diisi oleh lantunan puisi yang dibacain ama Fanny Thorete. Loh sapa nih orang? usut punya usut, ternyata Fanny Thorete ini adalah orang Perancis yang berjasa ngebawa album EP Armada Racun ke negeri asalnya. Sedangkan album EP ini sendiri hanya diedarkan secara terbatas di Prancis sebanyak 50 copy.
Lalu mereka juga ngeciptain lagu Tuan Rumah Tanpa Kata dan Drakula buat anak girli alias pinggir kali. Emang sih lagu ini lahir pas mereka ngsi di acara buat anak girli tersebut, jadi bisa dibilang lagu ini spontan tercipta karena acara itu.
Selain itu di album baru ini juga diisi permainan akordion dari seorang pemain sirkus dari luar negeri. Yah, di track Train Song Armada Racun duet ama Rio.
“Karena Rio tertarik untuk terlibat di lagu kita, maka dia maenin akordion di lagu Train Song. Kita merasa terhormat juga sih karena emang dia anggota dari tim sirkus yang udah punya jam terbang tinggi, jadi ya kita ok-ok aja hehehe..,” sahut Nadia dengan tersenyum simpul.
Para personel Armada Racun ternyata masih kurang sepakat jika mereka disebut indie.
“Kita lebih nyaman kalo dikatakan do it yourself, karena di dalam proses pendokumentasian karya kami ini, kami emang bener-bener dengan usaha kita sendiri, ya syukur deh kalo kita bisa bergabung ama Lil’fish Records untuk pendistribusian album ini,” tutup Adit di akhir pertemuan. (fer/why)

dJambur Coffee : Dukung Band Lokal

[Selasa, 20 Oktober 2009]
Tetep Dukung Potensi Band Lokal

NGGAK kerasa program Senin Indie Akustik yang digulirkan dJambur Coffee udah jalan empat bulan. Dan pas tanggal 12 Oktober lalu, mereka nglanjutin propaganda untuk acara yang lagi-lagi make tajuk Senin Indie Akustik vol. 2. Launching Senin Indie Akustik vol. 2 kemarin dimeriahin ama beberapa band lokal Jogja, seperti Metro, D’fondo, Jarerasta, Klausa, Mokejoke, The Fam, Calistha, Enam Masa, dan Ellectra.
Nggak kalah seru, di edisi kedua ini, dJambur Coffee nggak cuman nyodorin penampilan band, tapi juga ngasih edukasi soal musik lewat diskusi bareng.
Emang sih, sebelum ngeluncurin Senin Indie Akustik vol. 2, dJambur Coffee ngawalinya ama acara Curhat Bareng, Bincang Musik, Ngeband Asyik. Acara itu udah digeber 5 Oktober 2009 lalu. Narasumbernya waktu itu Doni (D’gank) yang juga mantan vokalis Seventeen. Acara yang dipandu ama Rina Arumi (presenter, model) waktu itu seru juga lho.
“Kita sih juga pengen ngasih sedikit bekal buat temen-temen band Jogja soal (wawasan) bermusik, baik dari aspek karya maupun industri,” jelas Samsu Pratolo yang nyandang status si Manajer Even.
Untuk awal, pihak penyelenggara sengaja ngehadirin langsung praktisi musik seperti Doni D’gank. Dan ke depannya, diskusi musik ini pengen si Samsu juga bisa ngelibatin narasumber dari berbagai pihak yang berkompeten, kayak manajer band, reporter musik, produser maupun event organizer.
Sementara senin malam (19/10) kemarin Senin Indie Akustik vol. 2 emang dikemas jadi edisi spesial, karena dJambur Coffee jadi persinggahan Java Promo Tour 2009, Kami Bukan Sampah yaitu salah satu band Punk Rock asal ibukota, Begundal NKRI.
Nah buat temen-temen yang belum sempet nyaksiin penampilan Begundal NKRI, Rabu (21/10) besok mereka masih akan tampil lagi koq. Bayangin deh gimana si Begundal NKRI harus tampil akustik, apalagi mereka dipercaya buat ngeramein ultah ketiga dJambur Coffee.
“Di samping program-program itu, beberapa waktu lalu kami juga sempet ngelakuin malam amal peduli gempa Sumbar dengan menggandeng beberapa elemen organisasi pemuda,” tandas Samsu kasih informasi soal kepedulian dJambur Coffee. (why)

The Manna

[Selasa, 13 Oktober 2009]
Berkarya Sekaligus Beramal


DEMAM band Paramore dua taun belakangan pernah ngelanda negeri ini. Nggak sedikit anak-anak muda di beberapa kota besar Indonesia yang terimbas gaya permainan band bergenre Emo-PopPunk-Alternatif ini.
Yah... Virus Paramore emang telah mewabah di negeri ini. Tak terkecuali di Jogja, di sini juga ada beberapa band yang kepengaruh band asal Tennesse, USA. Salah satu yaitu The Manna. Meski pada perkembangannya mereka udah jauh dan lepas dari bayang-bayang Paramore.
"Ya, dulu karena Paramore aku jadi pengen belajar gitar dan bisa maenin lagu mereka, tapi sekarang aku udah punya style sendiri," terang Bowie, gitaris The Manna, pas jumpa kru Indikasi di sebuah kedai kopi di Sleman.
The Manna yang awalnya bernama Manna lahir pada 27 Juli 2005, dan saat ini diawaki ama Ankgi (vokal), Bowie (gitar), Kemo (gitar), Ayok (drum), Wicak (Bass), dan yang terakhir adalah Ajeng ( Violist/Keyboardist).
Jika kita dengar nama The Manna, sepintas kita akan ingat nama roti yakni roti Manna yang diberikan Isa/Yesus kepada umatnya. Meski jumlah rotinya sedikit namun roti ini seolah tak pernah habis dibagikan kepada umatnya yang jauh lebih banyak dibanding roti itu.
Filosofi itulah yang mendasari pemakaian nama The Manna sebagai nama band. Harapannya nanti karya-karya The Manna nggak akan habis dimakan waktu dan bisa diterima semua lapisan masyarakat.
Menariknya, The Manna tuh nggak nongol gitu aja, ternyata mereka semua bisa gabung jadi satu berkat campur tangan Ismeth (Captain Jack). Tapi hal itu bukan berarti mereka cuma maen-maen dalam bermusik.
Saat ini mereka juga pengen ngebuktiin keseriusannya dalam berkarya dengan nyiapin sebuah EP yang bakalan rilis pada akhir taun ini. Untuk demo lagunya kalian bisa dengerin melalui situs myspace mereka di www.myspace.com/themannarock.
Melalui demo lagu The Manna yang nangkring di situs tersebut, kalian bakalan nemuin karya-karya fresh dari band bergenre SimpleRock ini. Dan mereka bener-bener nunjukkin kalo emang mereka udah lepas dari bayang-bayang Paramore.
"Dari EP kita inilah kita pengen buktiin kalo sekarang emang kita udah nggak bukan pengekor Paramore coz kita punya cara bermusik tersendiri untuk berkarya," tegas Bowie yang juga alumnus VMC "Visi Media College" Computer Graphic ini.
EP yang diberi titel "Lost Chapter" ini rencananya akan rilis hanya sebanyak 250 copy aja untuk awalnya. Daerah penyebarannya juga hanya di Jogja, Jawa Tengah, Jakarta dan Balikpapan. Namun jika direspon positif nggak nutup kemungkinan bakal copy lebih banyak lagi dan daerah penyebarannya juga akan diperluas.
Menurut mereka, Lost Chapter ini hanya akan berisi enam track aja dan satu tracknya berisi musik instrumen. Nomer-nomer yang akan menghiasinya adalah Not Aware, D.I.M (Devil In Me), Miss You, Fallin, Simpan Doamu, Lost Chapter (Instrumental).
Tema-tema yang mereka akan angkat berkutat pada permasalahan sosial masyarakat yakni keidakpuasan individu terhadap sesuatu hal yang dia anggap menyimpang, kayak disudutkannya seseorang dengan norma-norma yang sebenernya norma-norma tersebut tidak dapat lagi digunain sebagai pembenaran.
Coba ntar kalian simak aja track yang menjadi andalan mereka yakni D.I.M (Devil In Me), lagu ini bercerita tentang luapan kekesalan ketika kita merasa tersakiti oleh perasaan yang terus ditindas dan kita selalu mengalah, namun di suatu saat kita juga bisa menunjukkan kalo kita dapat berubah menjadi makhluk yang paling jahat, karena menurut pikiran kita, orang mengalah pada sekarang ini akan semakin ditindas.
So, kayaknya perlu banget nih untuk kita nantiin supaya kita nggak penasaran.
Guys, inilah salah satu sifat yang kudu kita jadiin teladan dari The Manna, yakni sifat yang nyata dan kongkrit untuk saling memberi sesama. Meskipun The Manna bukanlah band yang gedhe banget ato band berkantong tebal hehehe... piss ya... namun mereka mampu nunjukin sikap empati untuk beramal lho.
Nggak percaya? Coba aja nih simak ucapan Bowie, salah satu gitaris The Manna. "Bukan untuk takabur atau apalah tapi sebagian fee dari The Manna perform kita siapin buat orang-orang yang lebih membutuhkan, minimal untuk mempertebal iman kita," ujar Bowie dengan tersenyum, yang juga berharap langkahnya ini juga diikuti rekan-rekan dari band lain. (why)


LAMPUKOTA

[Selasa, 29 September 2009]
Ingat…. So Wait and See


RADIO adalah salah satu sarana komunikasi yang nggak lekang oleh waktu, dari zaman eyang-eyang kita pas era kompeni dulu ampe era teknologi informasi saat ini, radio masih banyak dimanfaatin.
Cuma sedikit beda, radio pas zaman eyang-eyang kita dulu digunain sebagai alat perjuangan, tapi kalo sekarang radio nggak lagi dipake sebagai alat perjuangan karena zaman udah merdeka hehehe..
Di era sekarang ini radio banyak nyuguhin berbagai macem program buat semua segmen. Dari orang tua ampe anak-anak, dari acara musik major label hingga indie label.
Akibat dari adanya program buat indie label itu, ngebikin tiga anak muda terinspirasi ngebentuk band jenis indie-pop, dan band itu dinamai Lampukota.
Yups, seunik dan se-yummy namanya, band ini nawarin konsep unik juga buat mengapresiasikan musiknya lewat alunan Jingle Pop. Dan band ini sendiri diawaki oleh Buddy Prasetyo (vokal & gitar), Kiki Tsalasita (gitar & vokal), Aryf Kusuma (drum & tamborin) serta dibantu (additional player) Anandito Susetyiadi pada posisi Bass.
“Awalnya kita pengen kayak band yang udah nongol duluan, macem Bangkutaman, GuntingKuku, Pure Saturday de el el. Kita ngekor mereka juga sih cuma kita tambahin dengan ngasih sentuhan unik nada gitar, maka jadi deh, Jingle Pop-nya,” tukas Aryf saat menjumpai kru Indikasi Radar Jogja di Indikasi Corner.
Dalam pemilihan nama band yang terdenger unik ini para personel Lampukota ngaku kalo ada makna filosofinya lho. Dan makna filosofi tersebut adalah mereka pengen menerangi belantika musik Indonesia kayak lampu kota memberikan cahaya terhadap jalanan kota.
Maksudnya? “Harapan kita sih, nantinya lagu-lagu karya kita bisa memberikan cahaya bagi para pendengarnya seperti fungsi dari lampu kota itu sendiri,” jelas sang drummer sambil membenahi topi di kepalanya.
Nama Lampukota ini ngingetin kita ama nama-nama band yang unik lainnya, sebut aja Bangkutaman, Gelasplastik, GuntingKuku, Rumah Sakit, dan Planetbumi. Usut punya usut, ternyata dari nama-nama band yang unik tersebut yang ngasih inspirasi tercetusnya Lampukota. Asik juga nih, kayak sodara di dalam satu keluarga aja ya hehehe..
Guys, band yang terbentuk pada Juli 2006 ini merupakan evolusi dari Feelokay, dan karena ada suatu hal maka sejak November 2007 lalu tersebutlah nama Lampukota.
Kalo lampu kota nerangin jalanan cuma pada malem hari, tapi Lampukota ini tidak hanya nyala pada malem hari. Yang maksudnya tuh, Lampukota bukanlah band setengah-setengah, Lampukota telah ngebuktiin eksistensinya dengan menjadi finalis regional di gelaran Indiefest milik sebuah perusahaan rokok tanah air pada tahun 2007 lalu.
Meski gagal keluar sebagai yang terbaik, tapi dua nomor Lampukota yakni Jangan Mati dan Come On Come On diapresiasi positif oleh para juri.
“Dari situ kita makin lebih giat berkreasi dan tidak patah arang untuk terus maju pantang mundur,” cerocos pemuda yang baru kelar kuliah di jurusan Sosiatri UGM ini.
Selain prestasi itu, mereka juga sempet ngerilis album EP Jangan Mati. Dan baru-baru ini salah satu karya mereka juga nongol di sebuah kompilasi bernama DIY on DIY. Lalu rencananya Lampukota juga bakalan segera ngerilis full albumnya, so wait and see aja brur.
Wahh….. Manteb nggak tuh? Jadi Lampukota memang bukanlah band setengah-setengah kayak lampu kota yang cuma nerangin kota di malem hari. Dan Lampukota bukanlahband yang beberapa saat nongol di permukaan, lalu nggak lama kemudian menghilang bak di telan bumi.
Meskipun telah meraup beberapa prestasi, ternyata Lampukota hingga saat ini masih memendam sebuah hasrat, yakni mereka berharap bisa menjadi bagian pengisi acara di sebuah acara Pensi. Eitss, ini bukan berarti mereka nggak diperhitungkan lho, tapi mereka pengen menyampaikan sebuah misi, yang menurut mereka adalah misi yang mulia untuk perkembangan musik lokal.
Penasaran khan ama misi tersebut? Yah, menurut pandangan mereka, kebanyakan acara Pensi tuh merupakan ajang yang latah. Kalo misalnya di sebuah Pensi skul sukses karena ngundang band X, eh skul laen jadi ikut-ikutan juga untuk ngundang band X tersebut.
Menurut Lampukota, hal ini kurang sehat bagi perkembangan musik lokal, sebab ntar bisa bikin kesenjangan yang pada akhirnya akan mempersempit ruang sebuah band terutama band-band lokal.
“Padahal disini (DI Jogjakarta) terdapat banyak sekali band kreatif yang kaya akan ide dan pembaharuan serta memiliki kualitas yang mumpuni, sayang kalo nggak di apresiasi” tegas Aryf dengan nada optimis dan antusias. “Jadi disinilah misi kita, yakni pengen ngasih sebuah wawasan bahwa musik itu nggak sempit dan nggak hanya tertumpu pada satu titik saja,” tambahnya. (why/fer)

Morning Horny: Spirit Pertahanan Punk Rock

[Selasa, 15 September 2009]
Spirit Pertahanan Punk Rock


MAJU terus pantang mundur, ya itulah satu kalimat yang coba dikumandangin ama salah satu band Punk Melodic asal Jogja, Morning Horny. Band yang digawangi oleh Danu Raphael (vokal), Adios Setyawan (gitar), Agustinus Marco (gitar), Christian Henry (bass), Surya Yanuar (drum) ini berusaha terus eksis di tengah menggeliatnya jenis musik baru dari Punk Rock (Punk Melodic).
"Kita tetep kolot untuk terus mempertahanin roots genre kita, yakni Punk Rock, sebab kita nggak mau ikut-ikutan ama tren yang sekarang lagi perkembang," ujar Agustinus Marco atau yang biasa disapa Untung, yang lalu menambahkan juga bahwa banyak band-band Punk Rock saat ini yang ngelakuin evolusi jenis musik untuk mengkuti selera pasar (mainstream).
Namun mereka juga nggak bisa menentang fenomena itu, sebab hal tersebut sah-sah aja. "Banyak cara yang biasa dilakuin ama band untuk bisa eksis di permukaan, salah satunya ya kayak cara tersebut (melakukan evolusi jenis musik)," singkat Surya.
Band yang nongol sejak Agustus 2000 lalu ini sempet nelorin satu album EP Play It Fuckin' Loud, pada tahun 2004 lalu, tapi beberapa tahun setelahnya mereka malah vakum untuk bikin album. Padahal band ini sebenarnya cukup produktif untuk urusan bikin lagu, terbukti sejak usai keluarnya Play It Fuckin' Loud, Danu dkk udah punya sekitar 30 lagu yang belum pernah mereka rilis satu pun.
"Emang sih lagu-lagu kami yang di luar EP tuh belum sempet kita bikinin album, tapi lagu-lagu tersebut sering kita bawain juga pas kita performance," jelas Adios Setyawan ato yang akrab dipanggil Adi.
Ada kabar bagus nih bro... Setelah lima tahun berselang kini Morning Horny tengah serius nyelesein full album mereka yang pertama. So sabar dan di tunggu aja album kejutan full album perdana Morning Horny. Ntar lagi album ini udah nongol lho, coz semua materi udah siap jadi tinggal nyeleksi lagu mana saja yang bakal dijagoin di album baru ini.
Lirik di album ini nyeritain tentang lika-liku kehidupan sehari-hari manusia yang tentu aja diceritain dengan gaya punk-rock ala Morning Horny. Salah satunya, mereka nyeritain kekonyolan dan keisengan tapi yang happy ending. Idihh,,,Asik banget nggak tuh?.
Simak aja di single andaalan mereka ntar yang dikasih titel hidup dalam mimpi, dalam lagu ini MH coba nyeritain tentang seseorang yang kerjaanya cuma tidur, maen gaplek, mabok tapi dia pengen kaya. Lho kok? “ meskipun kerjaanya dia cuma tiur dan maen gaplek, tapi dia pengen punya cerita yang happy ending buat jadi kaya.” Jelas Danu sang vokalis.
Nggak hanya itu aja guys, mereka juga nyiptain lagu khusus buat klub sepakbola Jogja, yaitu PSIM. Lagunya bertitel Mataram. Lagu ini dibuat karena mereka pengen ngedukung persepakbolaan Jogja. Lagu ini masuk di Album kompilasi bareng Something Wrong, Doom 65, Endank Soekamti dan beberapa band lainnya.
Guys, keluarnya album baru ini karena mereka pengen nunjukkin kalo anak punk itu kreatif fan nggak cuma jadi fashion dan gaya-gayaan aja. “ Punk nggak harus identik ama pearching, rambut spike, celana robek dan ngamen pinggir jalan aja. Punk itu juga bisa kreatif. Bukan sekedar lifestyle aja tapi juga bisa tagline semangat hidup!” jelas Danu sang vokalis.
Dari situ juga yang nginspirasi si Danu buat nyeletukin nama “Morning Horny” buat jadi nama band mereka. “kebanyakan cowok, kalo bangun tidur pagi selalu ngrasain morning horny. buat cowok-cowok pasti udah tau kan makdsunya apa? Hehe..jadi filosofi yang bisa diambil yaitu semangat kita buat nyambut pagi. Buak cuma yang itu doank yang semnagat! Haha”jelas danu dengan tertawa simpul.
Eitss!!!! Jangan negthinhk dulu! Coz mereka nih penegn nunjukkin kalo pemuda tuh harus semnagat tiap paginya buat beraktivitas! “kalo istilah seriusnya si semangat pagi buat berdiri tiap hari!’ ujar Adi sang Gitaris.
kita pengen ngambil semngatnya aja ! jWait..wait..wait … agak serem nih buat ngmongin nama nih band, coz identik ama hal-hal kayak gitu deh. (why/fer)

Spider’s Last Moment (SLM)

[Selasa, 8 September 2009]

Spider’s Last Moment (SLM)
Stel Kenceng Tradisi Baru

USIA tiga tahun buat band itu sih emang masih relatif singkat, kalo manusia, usia segitu khan masih balita yang masih lucu-lucunya… Tapi kayaknya soal itu kurang pas buat gambarin band cadas asal Jogja, Spider’s Last Moment (SLM).
Kalo nggak percaya coba simak aja mini album (EP) mereka “A New Tradition”. Di album itu mereka nyoba kasih nuansa cadas yang nggak sekadar asal cadas aja. Nah loh.. penasaran khan?
“Track pertama ampe ketiga di EP ini merupakan kepolosan kita dalam berkarya. Lalu track keempat dan kelima merupakan titik nyaman kami dalam bermusik, dalam scene metal tentunya,“ ujar Aryo pemetik gitar SLM.
Band Progressive Metal yang dihuni oleh Cebe (bass), Aryo (gitar), Pandu (drum) dan Wiman (vokal) ini pengen ngajak kita semua berpikir secara dalam permasalahan sosial, terutama dari aspek manusia sebagai individu. Banyak sekali terdapat pesen sosial yang menyoroti permasalahan khas manusia di dalam lirik setiap lagu mereka. So, mereka pengen ngasih musik yang nggak hanya asal teriak dengan balutan distorsi tebal khas metal aja.
“Lirik lagu kami cenderung nyentil tentang inferioritas manusia. Manusia tuh pada dasarnya memiliki batas ketidakmampuan dalam suatu hal, but mereka selalu stag dan menikmati ketidakmampuan itu tanpa aksi jelas,” jelas Wiman yang banyak bertindak jadi penulis syair lagu SLM.
Oleh karena penulisan syairnya banyak yang terinspirasi dari mendiang Richard James Edward, vokalis Manics Street Preachers, band asal Wales, maka SLM pun mendedikasikan sebuah lagu dengan judul Manics buat vokalis yang sempet dinyatakan menghilang pada tahun 1995 silam, lalu ditemukan telah meninggal tahun 2003.
Oh ya, menurut personel SLM, tahun depan mereka bakal ngeluncurin satu full album. Di album yang akan dikasih titel “The Arsonist of Human Integrity” itu, SLM nggak cuma nongolin track datar-datar aja. Coz mereka telah nyiapin sebuah track spesial, track berkonsep trilogy.
Maksudnya, akan terjadi mutilasi tiga bagian dalam sebuah lagu yang bertitel I am Standing Still on My Destinophobia to Against Their World. Karena mutilasi tersebut maka akan terbentuk tiga suku kalimat yaitu, I am Standing Still, On My Destinophobia, To Against Their World. Jadilah sebuah lagu yang dimutilasi jadi tiga bagian (trilogy) dengan time played sekitar 18 menit. Widih, udah kayak lagu orkestra aja nih, ato jangan-jangan pengen nyaingin Dream Theatre hehehe...
Menurut Wiman, lirik di trilogy ini nyeritain seseorang yang tetap berdiri menentang putaran dunianya, dan menjauhi putaran dunianya yang lebih cepat dari takdirnya lalu berharap perlakuannya yang kecil itu berharap menjadi counter terhadap simulacra yang ada.
Di tengah penggarapan full album ini, terdapat kabar yang kurang sedap coz Cebe harus ninggalin SLM dengan alasan telah rampungnya studi kuliahnya dan dia harus kembali lagi ke daerah asalnya yakni di Jakarta. “Ada yang pergi maka akan ada yang datang juga, dengan cabutnya Cebe, kita kedatangan Totok sebagai gantinya,” terang Pandu drummer SLM yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa Hukum UGM. (why/fer)

Something Wrong is Back

[Selasa, 1 September 2009]

Something Fresh from Something Wrong

“Rumongso paling rojo nengkene liane diremehke, kabeh kudu manut kandanane minggato rasah rene, ra urusan !!!“

YA, kayak gitulah yang bisa dijumput dari secuil deret panjang lirik yang bakal dijumpai di album band old-school hardcore asal Jogja, Something Wrong (SW). They’re back!!!
Emang, setelah ngluncurin album kedua (2002) SW pun selama empat tahun ngumpet entah kemana. But now, SW nongol lagi buat ngeramein blantika musik Jogja lewat distorsi khas hardcore mereka. Rock on!!!
Something Wrong lahir pada 2 September 1997 lalu. Mereka udah ngalami tiga kali bongkar formasi, dan sempet nelorin dua album. Dan untuk formasi sekarang SW digawangi ama Kucing (vokal), Hendi (gitar), Trek (gitar), Sutik (bass) dan Seto (drum).
Sejurus niatan itu, mereka pun kini dibuat sibuk ama pengerjaan albumnya yang paling anyar. “Materi sebenernya dah rampung sekitar 60-70 %. Tapi kita juga masih ngelakuin proses record beberapa lagu lagi,” papar Sutik sang pembetot bass.
Di album baru nanti, SW bakal nampilin kemasan old-school hardcore yang beda dan unik. Mereka nyebutnya sebagai sesuatu yang spesial dan istimewa. Why? B’coz liriknya pake bahasa Jawa, dab! yo’ii, semua lirik di album ketiga ini make bahasa Jawa. Lho koq…
“Kita pengennya jadi tribute to Jogja Culture gitu. So kita ungkapin aja semua unek-unek (lirik) kita dengan full bahasa Jogja. Daripada entar kultur kita dicuri ama negeri sebelah,” jelas Kucing sang vokalis yang nyoba nyentil permasalahan yang lagi hangat di tengah masyarakat kita.
“Hardcore kan nggak harus make’ bahasa Inggris aja. Bahasa Jogja ato bahasa lain juga nggak diharamin koq. Coz musik itu universal,” sahut Trek gitaris anyar SW.
Tema kehidupan sehari-hari, pertemanan, gossip jalanan serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar masih jadi bahasan dan isu yang mereka angkat di album yang ditargetin rilis akhir tahun ini.
Bro, vakum lama ternyata nggak ngasih banyak efek negatif buat mereka. Bahkan agak mereka nyoba untuk nyingkirin efek-efek negatif itu melalui sodokan album tersebut.
Uniknya, lirik bahasa Jogja ala SW bukan satu-satunya suguhan baru dari band ini, sebab mereka juga akan ngasih karakter distorsi yang lebih gahar dengan masuknya gitaris baru. “Gabungnya Trek, banyak ngasih perbedaan dari dua album sebelumnya, distorsi Hardcore-nya sekarang lebih kental,” terang Hendi yang masih sodara Sutik sang pembetot bass.
Oh ya ada sedikit bocoran dari SW, mereka kini lagi progress ama label di California untuk ngisi sebuah festival musik di Amrik sana, ya kayak Woodstock gitu deh. Wah duta musik Indonesia yang go international bakal bertambah donk? Sebelumnya khan udah ada Shaggydog ama NOXA.
Dengan banyaknya “something fresh” yang bakal disuguhin ama Something Wrong di album teranyarnya ini maka kehadiran mereka patut ditunggu. Ya, tapi harus sedikit sabar. Karena dahaga hardcore itu baru bisa terobati pada akhir tahun ini. Well, we will see !!! (fer/why)

Coolkhas: Kebut Rampungkan First Album

[Selasa, 25 Agustus 2009]

Coolkhas
Kebut Rampungkan First Album


NGGAK banyak band yang punya prestasi di ajang festival bisa bertahan lama mengarungi persaingan band-band baru di belantika musik Indonesia. Namun pemikiran model gituan coba ditepis ama band yang namanya punya kesan dingin, dan sedingin ama namanya. Yups, Coolkhas/CK (baca aja kulkas hehehe….)
Grup band pengusung Pop British yang gede di Jogja ini emang pernah ngraih prestasi di dua ajang kejuaraan, yaitu Nescafe Get Started (2004). Untuk kiprah mereka di ajang berskala nasional mereka pertontonkan juga lewat ajang festival kelas nasional. Tapi yang tingkat lokalan pun nggak mereka kesampingkan lho.
“Kita juga sering ngisi berbagai even tingkat lokal maupun nasional. Malah taun 2002 lalu, kita juga dapet kehormatan jadi band pembuka PAS Band saat live di Jogja,” ujar Novan saat berkunjung di Indikasi Corner.
Meski sempet “mati suri” selama hampir dua tahun, komposisi formasi Coolkhas nggak banyak ngalamin reformasi. Hanya posisi vokal aja yang ngalamin pergantian. Maka untuk formasi lengkap Coolkhas saat ini adalh Ryu (vokal), Rico (gitar), Denny (gitar), Novan (keyboard), Deddy (bass), dan Oto (drum).
Setelah beberapa waktu lalu mereka sempat nglempar hits single Takkan Pernah dan nongol di album kompilasi “Nescafe Get Started” mereka pun nglanjutin sukses kiprah musikalnya dengan ngluncurin mini abum dengan titel “Sebuah Awal” (2005).
Dan kali ini Coolkhas nyoba kembali nebar karya-karyanya lewat garapan full album. “Kita usahain tepat setelah Lebaran taun ini album kita bisa rilis dan bisa segera dinikmati pecinta musik tanah air,” jelas Rico dengan ciri khas tindik di bawah bibirnya.
Sedangkan label yang akan ngenaungin Coolkhas di album ini tetep dipercayain ke Freeze Production. “Karena Freeze juga berawal dari Coolkhas, dan jalinan kerjasama yang sangat apik selama ini, maka tetep kita jalan bareng ama Freeze,” tukas Ungul Silva selaku Personal Business Manager Coolkhas.
Materi di full album ini dibanding mini album sebelumnya, menurut Oto akan terdapat banyak perombakan terutama dari sisi aransemen musiknya, kayak drum yang akan lebih nge-beat dan out of box (nggak pattern yang basic).
Lalu dari segi lirik juga akan berbeda dari sebelumnya. “Kalo dulu kita lebih puitis, namun sekarang kita akan buat kayak ngobrol gitu. Dan tema kita akan megangkat arti cinta secara luas, so nggak melulu hanya cinta antar manusia,” jelas Novan yang banyak menulis lirik-lirik lagu Coolkhas.
Maka dengan kata laen, Coolkhas akan mengalami perubahan yang signifikan nih, so bagi kalian pecinta musik Indonesia terutama penggemar Coolkhas, wait and see aja. (why)

Metal Ampe Mampus

[Selasa, 11 Agustus 2009]

15 Tahun Jogja Corpse Grinder
Metal Ampe Mampus

SAPA bilang scene musik Metal di Jogja udah almarhum alias tamat? Jogja Corpse Grinder (JCG) hari Minggu (9/7) kemarin malah lagi kenceng-kencengnya punya acara. Lewat even dengan tajuk “Metal Sak Modare” ini, usia JCG yang ke 15 tahun jadi lebih berarti. Lewat even ini, mereka pengen ngebuktiin ke khalayak luas, kalo scene musik Metal Jogja tuh bener-bener belum abis.
Raungan musik-musik cadas dan ekstrim pada Minggu malam lalu bergemuruh dan mengguncang Bunker CafĂ©. Lima belas band ganas JCG dari yang ber-genre Doom/Gothic Metal, Black Metal, Death Metal hingga “Metal masa kini” yakni Metalcore silih berganti menghajar habis kuping sekitar 500 an metalhead Jogja.
Even ultah yang baru kali pertama terlaksana sejak 15 tahun belakangan ini, terealisasi karena militansi dari para anggota JCG yang ngerasa terpanggil buat kembali ngebumiin scene metal di tanah Jogja. Emang sih JCG udah sering ngadain even Ekstrem Metal, bahkan mereka punya even legendaris yakni Jogja Brebek.
“Tapi kalo Metal Sak Modare khan punya arti istimewa. Karena diagendain pas ultah JCG, dan ke depannya kita upayain even ini jadi agenda rutin tiap taun,” jelas Sastrawan salah satu aktivis lawas JCG.
JCG merupakan wadah ngumpulnya para metalhead Jogjakarta yang setaun ini pengen eksis kembali. “JCG berawal pada pertengahan taun 1994 silam, dan selama kiprahnya juga sempet tidur pulas ampir sepuluh taun. Dan sejak tengahan tahun lalu bangun lagi,” ujar Sastrawan yang juga vokalis band Devoured.
Padahal dari JCG inilah, Jogja punya band-band ekstrem metal kenamaan, macem Death Vomit, Drosophila, Mystis, Nosferatu, Venomed de el el. Bahkan di “Metal Sak Modare” kemaren, Death Vomit turut manasin suasana dengan unjuk gigi di penghujung acara.
Band-band lawas JCG ampe sekarang banyak yang masih bertahan dengan konsep bermusik masing-masing. Tapi ada juga pendatang-pendatang baru yang bener-bener fresh. Dan tentunya nggak sedikit yang mutusin untuk bubar.
Pada dasarnya, eksistensi komunitas dan scene musik ekstrem metal ini nggak bisa cuma ngandalin militansi para anggotanya aja.
Apalagi scene ini merupakan scene Under Ground dan bergerak secara indie, maka cukup susah buat ngebentuk ato ngelakuin proses regenerasi dan terus eksis tanpa support dari pihak-pihak di luar mereka.
“Scene Metal ato Under Ground adalah scene yang bener-bener Indie dari segala aspek, so kami juga termasuk kaum minoritas apalagi dibanding ama scene ato komunitas yang laen. Maka kami butuh dukungan dari media massa terutama media lokal,” tegas salah satu dedengkot JCG, Krisna yang didapuk sebagai MC. So selamat ultah buat JCG. (why)

Abakurakustik Terbaik di TCBC

[Selasa, 11 Agustus 2009]

Abakurakustik Terbaik di TCBC


PENAMPILAN santai dan rasa pede begitu besar yang dipunyai Abakurakustik sukses nganterin mereka ngraih posisi yang terbaik di ajang Tamansari Coustic Band Competition (TCBC) 2009. Sementara untuk aranseman jingle Star Mild yang terbaik diraih GTB. Demikian pula GTB juga kebagian jadi band favorit versi pengunjung Tamansari Foodcourt Ambarrukmo Plaza.
Gelaran final TCBC yang berlangsung di Tamansari Foodcourt akhir pekan lalu memang diwarnai perdebatan dan kerja keras para dewan juri yang terdiri dari Dharu Dwi Atmadja Rheynata dan Berchman Heroe.
‘’Jika di babak penyisihan kita tinggal milih yang harus dibuang. Maka di sesi final kita kebingungan menentukan yang terbaik dari yang baik-baik….jadi pusing juga,’’ kesan Ndaru.
Acara yang dipandu Ibenk Kondo saat itu memang berlangsung meriah begitu . Sebab ke 10 finalis yang wajib tampil malam itu betul-betul berupaya bisa tampil lebih maksimal. Hasilnya memang nggak ngecewain dan justru bikin pusing dewan juri. Jika pengin ngerti siapa aja juaranya, liat aja grafisnya.
Seperti diketahui, 50-an band indie dari Jogja dan sekitarnya ikut memeriahkan event yang didukung Star Mild Music, Radar Jogja dan Prambors FM ini.
Kelima puluh band yang harus tampil dengan format akustik tersebut berupaya tampil menjadi yang terbaik guna memperebutkan total hadiah sebesar Rp 5 juta. (why)

TERBAIK TCBC 2009
1. Abakurakustik.
2. Duff
3. Dharma

Jingle Star Mild Terbaik
1. GTB
2. Jokers
3. Delv

Grup Favorit : GTB

NAERA: Serius Nyiapin Album

[Selasa, 4 Agustus 2009]

NAERA: Serius Nyiapin Album


KESERIUSAN sebuah band itu bisa diperlihatkan dari karya-karya yang mereka ciptain yang kemudian diwujudkan dalam sebuah album. Jika itu dipake acuan, maka band indie Jogja, Naera perlu dihargai. Karena Naera kini tengah nyoba untuk ngramein blantika musik indie kota ini dengan warna musik pop yang dikasih sentuhan rock n roll, blues ama dance. Kedengerannya sih rame, tapi tetep aja mereka lebih nonjolin nuansa musik yang ngepop.
Band yang berdiri sejak 1 Juli 2007 ini diperkuat ama Muchriadi/Adi (vokal), Hairil Aswan/Aril (gitar), Fadli Fahmi/Fay (bass), sedangkan posisi drum sendiri masih additional yang diisi bergantian ama Ilend dan Haris. Menurut personel Naera, meski genre musiknya pop, tapi bukan berarti pop melayu. “Naera emang bukan grup band metal artinya bukan melayu total,” kelakar sang pembetot bass Fay.
Saat ini, band yang lagi sibuk nyiapin album perdana nya ini udah berencana meluncurkan album tersebut pasca lebaran taun ini. “Materi album sih udah siap, terus saat ini kita lagi nyiapin soft launching ama launching debut album ini, kalo nggak ada kendala soft launching kita laksanain pas ngabuburit bulan puasa,” ujar Ade Amijaya, Bussines Manager Naera.
Sejak pertama berdiri hingga kini, Naera jarang unjuk gigi di atas panggung. Kalopun mereka tampil, itu juga karena undangan temen, bukan karena keinginan personelnya. “Ampe sekarang emang kita jarang tampil di panggung, karena kita lagi konsen penggarapan album, dan hal ini sesuai komitmen awal kami ngebentuk Naera,” jelas Fay.
“Setelah kita punya album, baru kita berani keluar dan ngekampanyein karya-karya kita ini,” tambahnya.
Lirik lagu Naera di album perdana ini banyak bertutur soal cinta di lingkup anak muda. Komposisi musik yang disuguhkan juga easylistening, nggak rumit dan mudah dicerna. Nggak akan ditemukan lick gitar yang rumit di lagu mereka, hanya permainan bass yang lebih banyak running chord.
Dalam permainan gitarnya Aril ngandalin penggunaan Gibson Les Paul dengan senar ukuran 0.10 ditambah ampli Marshall JCM 900 buat ngedapetin sound yg crunch dan overdrive untuk lebih tebalnya, “Untuk ampli kadang aku juga pake Marshall Modefor,” imbuh gitaris yang namanya mirip vokalis Peterpan ini.
Sedangkan untuk Fay, dengan permainan bass yang banyak running chord dia memilih sound yang mid low, yang ditunjang melalui Fender Precission Japan dengan ukuran senar 1.05/45 ditambah ampli GK. “Sound Fender vintage, terus dengan senar ukuran 1.05/45 jadi aku bisa blocking dan low-nya bisa lebih dapet” ujar bassis yang juga mahir bermain piano ini. (why)

Rolling Stones Meriahkan dJambur Coffee

[Selasa, 4 Agustus 2009]

Rolling Stones Meriahkan dJambur Coffee

NOMOR cantik Rolling Stones Minggu (2/8) malam lalu bergulir indah di tempat nongrkrong nya anak-anak muda, dJambur Coffee. Melalui acara yang diberi tajuk malem akustik A Tribute to Rolling Stone, DJambur Coffee mencoba untuk menggali kekuatan grup legendaris itu.
Acara berdurasi kurag lebih tiga jam itu dimulai dari sekitar pukul 20.30 WIB yang diawali ama pemutaran video Rolling Stones live @ New York 2006 ngegunain multimedia giant screen ukuran 280 x 250 cm. Beberapa band indie Jogja seperti Naera dan GAS Coustic tak mau tertinggal untuk memeriahkannya.
Meski dikemas sederhana, tapi even yang bakalan dibikin secara regular ini punya tujuan ngedukung eksistensi dan keberlangsungan komunitas band-band indie serta komunitas-komunitas lainnya di Jogja. “Di sini kami sangat serius buat ngefasilitasi dan ngakomodasi band-band indie Jogja untuk berkembang dan maju bersama, yang juga tidak mengesampingkan komunitas yang laen,” jelas Samsu Pratolo sebagai Event Manager.
Lantas kenapa pada kesempatan ini ikon yang diangkat koq The Rolling Stones? Kenapa bukan The Doors ato Led Zeppelin yang notabene sama-sama band legendaries dunia? “Pertama, karya-karya Rolling Stones tak lekang dimakan waktu, lalu sampe sekarang band ini masih eksis dan sangat melekat kuat di para penikmatnya, terbukti live concert mereka tak pernah sepi dari pengunjung,” jelas koordinator acara, Mehdi Ades Ceisar. (why)

Pagihari : Vakum

[Selasa, 28 Juli 2009]
Pagihari
Manfaatin Vakum dengan Evaluasi


PAGIHARI adalah band Jogja yang udah melalui proses pencarian jati diri. Begitu juga soal prestasi ama penghargaan udah mereka rengkuh. Tapi di waktu belakangan, nama band yang lahir sejak awal 2004 ini seakan tenggelam di tengah maraknya band-band baru yang berlomba untuk ngeksis di jalur sama, indie. Apa kondisi itu mengindikasikan mendung tengah menyelimuti langit “Pagihari”?
Saat hal itu dikonfirmasi ke salah satu personel Pagihari, Niken Elok Santi Utami ato biasa disapa Elok dengan enteng ngatain, Vakum. ”Udah hampir setahun ini kami vakum, tapi jangan dikira dalam masa vakum itu kita nggak punya kegiatan bermusik lho,” ujar sang vokalis sekaligus gitaris band ini.
Emang, personel Pagihari saat ini cuma nyisain Elok ama Zamani Karmana (Ama) sebagai gitaris utama. “Sejak ditinggal ama tiga personel kita yang laen, praktis Pagihari cuma make additional player, kita keberatan banget kalo Pagihari dikatakan bubar,” katanya saat dijumpai kru indikasi di kawasan Seturan.
Namun di saat-saat vakum, dua dedengkot Pagihari inipun mengoptimalkan waktunya dengan banyak belajar. Mereka merenung dan mengukur kelemahan maupun kekuatan Pagihari selama ini. “Kita evaluasi gitu deh, jadi saat ini kita butuh waktu buat mikir, agar Pagihari bisa lebih matang, nantinya, so Pagihari masih tetep eksis,” tandas cewek yang mengecat rambutnya dengan warna pink ini.
Dan kalo berjalan sesuai rencana, dalam waktu deket, Pagihari bakal hijrah ke ibukota alias ke Jakarta. Dengan pertimbangan apa Pagihari hendak bertolak ke Jakarta? “Kita sih pengennya tetep di Jogja, namun kalo tetep ngotot bertahan di sini kayaknya kita seperti jalan di tempat, maksudnya nggak ada perkembangan berarti,” jawab Elok optimistis.
“Selain itu, di sana ada temen yang nawarin untuk ngegedein Pagihari,” sambungnya.
Namun keinginan itu kayaknya nggak bakal berjalan mulus, sebab Ama, yang masih jadi personel Pagihari agak susah dikompromi untuk bisa hijrah ke Jakarta. “Ama khan udah kerja di sini, jadi kalo kita hiirah ke Jakarta maka mau nggak mau kudu ninggalin pekerjaan,” kata gadis yang gemar music alternatif ini.
Sekadar kalian tau, band yang berdiri taun 2004 ini, awalnya beranggota lima personel, Elok, Ama, Aris, Danang serta Sani. Namun beberapa waktu kemudian yang bertahan tinggal Elok dan Ama. Namun akhirnya Aris mau kembali lagi. Saat itu Ama balik ke Pagihari sambil ngajak Yudis.
Maka formasi Pagihari adalah Elok (gitar & vokal), Ama (lead gitar), Aris (bass) dan Yudis (drum). Mereka pun eksis dengan genre rock alternative, yang biasa mereka sebut Emotional Noise Rock. Mereka ngaku banyak dipengaruhi My Vitriol, Siguros, Radiohead maupun Pink Floyd.
Soal prestasi mereka pernah ngedapetin The Best New Band 2004 versi The Beat Magazine, Second Winner Skool Of Rock se-Indonesia by HRC Bali, MTV, EMI, Musica, Fast Forward Record, Ripple, The Beat, Surya Pro. Mereka juga pernah jadi The Most Respectable Band on Soundrenaline Malang 2004 (Hai Red Stage). Dan masih banyak lagi lainnya.
Sedangkan karya musik yang pernah mereka hasilin yaitu tiga album, satu album soundtrack film indie Semilir (2004), satu album berformat EP (Extended Play) Hari Ini Kami Mencintai Diri Kami Sendiri (2005), serta satu full album dengan titel Lara (2006). (why)

The SIGIT Promokan Hertz Dyslexia

[Selasa, 21 Juli 2009]
The SIGIT
Promokan Hertz Dyslexia

PROMO tour album baru The S.I.G.I.T, Hertz Dyslexia bisa dibilang begitu heboh. Pada hari minggu (19/7) Liquid Cafe aja jadi terasa sesak karena dipadati penonton yang entah berapa jumlahnya. Meski agak molor dari waktu yang udah diagendain, namun nggak ngebuat penonton bete. Buktinya saat The Frankrover naik panggung, histeria pengunjung pun langsung nyergap ruangan.
Malam itu The Frankrover nyempetin ngelaunching beberapa karyanya. Mereka juga ngebawain nomor apiknya Deep Purple, yaitu Burn. Tak kalah memukau yaitu tampilan Jeni dan Coffin Cadillac.
Setelah sekitar dua jam, The S.I.G.I.T. (The Super Insurgent Group of Intemperance Talent) baru dapat kesempatan naik panggung. Di atas stage mereka berusaha ngecuci otak penonton dengan lagu-lagu yang ada di album anyarnya, kayak Money Making dan Midnight Mosque Song. Pengin tau lagunya? Coba aja download gratis di alamat website mereka, www.myspace.com/thesigit.
Melalui EP Hertz Dyslexia, The S.I.G.I.T dengan formasi lengkapnya Rektivianto Yoewono (vokal,gitar), Farri Icksan Wibisana (gitar),Donar Armando Ekana (drum) dan Aditya Bagja Mulyana (bas) lebih banyak ngedepanin pemahaman beat, noise, alias mereka main lebih keras.
Dibanding album sebelum, The S.I.G.I.T kali ini lebih nonjolin karakter hook-nya yang cenderung sinistik, lebih ngikutin iramanya. Sementara lirik-lirik lagu di Hertz Dyslexia kebanyakan ditulis ama Rekti. Soal album itu Rekti dan Acil ngakuin, di album EP terbarunya, mereka bisa lebih berimprovisasi.
Katanya sih, Album EP Hertz Dyslexia mereka gunain sebagai jembatan untuk ngebuat full album selanjutnya. Sebab di album itu ada nuansa-nuansa untuk materi album The S.I.G.I.T selanjutnya.
Setelah manggung di acara yang dikemas ama temen-temen Sindicate Kongsi Jahat, The SIGIT ini pun kudu langsung meluncur ke Makassar, untuk keperluan sama. (why)
 

Download MP3 Movie | DBL Radar Jogja